top of page
Search

BROKEN

  • Writer: The Trueness Troops
    The Trueness Troops
  • Apr 15, 2021
  • 7 min read

Updated: Apr 17, 2021

Apa sebenarnya arti kehidupan?

Kita hidup untuk apa?

Kalau keluarga? Apa sebenarnya arti dari sebuah keluarga?

Apakah keluarga bisa membuat kita paham arti dari kehidupan atau malah merusaknya?


***

Perasaan Sarah saat ini tidak dapat dijelaskan oleh kata-kata lagi. Ia merasa hancur jauh dari lubuk hatinya. Wajahnya kini dibasahi oleh tetesan-tetesan air. Namun air mata tidak mengalir ke luar wajahnya. Dibawah derasan butiran air. Saat itu langit menangis. Entah menangisi takdir lain atau malah menangisi satu gadis rapuh ini.


Di atas trotoar jembatan, Sarah berdiri dengan keberanian diatasnya. Menghadap ke arah perairan luas di depan matanya. Di depannya hanya dibatasi oleh pagar penghalang yang tingginya sepinggang dengannya. Setelah itu yang ada hanyalah lantai tanpa pijakan yang dapat membuat seorang yang melewatinya tenggelam dalam kenyataan menyedihkan.


‘Hanya dengan melewati ini, maka semua penderitaanku akan lenyap.’


‘Keluargaku juga tidak akan memetingkan hal ini karena mereka hanya sibuk dengan urusan perceraian mereka.’ Ungkap hati kecil Sarah berbicara didalam dirinya. Membongkar seluruh apa yang telah ditahannya selama ini.


Sarah perlahan memejamkan matanya. Tubuhnya melemas pasrah. Kesadarannya dipaksa untuk tidur. Mungkin dengan begitu ia bisa melewati semua ini tanpa rasa sakit.


Suara mekaran payung terdengar menusuk diantar suara derasan hujan.


“Kau mau melompat!?” suara lelaki pelan membisik dari arah belakangnya. Sarah terlonjak kaget dengan bisikan tersebut. Kesadarannya spontan terhisap Kembali. Matanya mengecil cepat setelah mengetahui siapa seorang dibalik bisikan tadi.


Dibawah tangisan hujan, mereka berdua saling bertatapan. Seorang gadis yang basah kehujanan dan seorang lelaki yang berteduh di bawah naungan payung hitamnya walaupun tubuhnya sudah terlanjur basah kuyup sebelumnya.


Beberapa jam yang lalu Sarah berada di ruang makan rumahnya. Ayah, ibu, dan kakaknya. Mereka berempat duduk saling berhadapan di depan meja makan Panjang. Sarah berhadapan dengan kakak perempuannya sedangkan orang tua mereka berada di sisi yang berbeda saling berhadapan.


Kalian pasti berharap bahwa ini akan menajdi makan malam yang hangat. Kenapa? Karena di ruang makan besar ini terkumpul sebuah keluarga di dalamnya. Tentu saja mengingat bahwa perkumpulan keluarga terutama makan Bersama sudah menjadi hal yang asing bagi para keluarga diluar sana.


Namun anggapan kalian salah karena pada makan mala ini mereka terlihat saling menahan satu sama lain, bahkan hanya dengan melihatnnya saja.


“Ibu, kalau boleh aku ingin ulang tahunku dia-“


“Maafkan ibu Sarah, tapi ibu harus berbicara dengan ayahmu,” potong ibunya serentak memukul bagian dasar meja makan. Bukan begitu sayang?”


“Dinda! Ini bukan waktunya membahas hal ini. Setidaknya hormatilah anak-anak yang berada di sini.” Teriak ayahnya melemper sendok ke pirin dari ketinggian rendah sehingga menimbulka sedikit bentrokan suara menggema.


“Apa!? Kau ingin berlindung di balik anak-anak?”


Orang tua mereka kini terlarut pada amarah mereka masing-masing. Ruangan ini sekarang dipenuhi oleh umpatan-umpatan mereka. Bahkan sekali-kali makian keluar dari mulut mereka yang sedang beradu. Melupakan keberadaan terpenting di dalam sana. Anak-anak.


Pandangan Sarah mulai memudar dan pendengarannya dipenuhi oleh suara dari orang tuanya yang sedang beradu mulut. Wajah Sarah mulai terlihat sedikit pucat. Perasaannya saat ini adalah takut. Itulah kata yang sedang berputar dalam pikirannya.


Sarah sudah tidak tahu apa yang harus dilakukan olehnya. Ia ingin menghentikan pertengkaran orang Tuanya tapi ia takut. Bahkan sangat takut hingga wajahnya memucat. Satu-satunya harapannya saat ini berada tepat di depannya. Ia melihat kakaknya hanya melotot pada satu benda berbntuk balok tipis mengeluarkan cahaya. Tapi Sarah saat ini yang ia perlukan adalah seorang yang berani untuk melerai kedua orang tua mereka.


“Kakak.. Kakak.. Kakak..” panggil Sarah perlahan dengan harapan bahwa kakaknya mendengarnya dan langsung merespon dirinya.


“Kakak..”


Ekspresi Sarah seketika memburuk setelah melihat reaksi dari kakaknya. Reaksi yang terlihat tidak peduli pada apa yang tengah terjadi saat ini. Lebih tepatnya kakaknya muak dengan seluruh kehidupannya saat ini. Sangking muaknya kondisi adiknya pun sudah tidak diperhatikan lagi olehnya.


Sentakan kursi menusuk suara sekitar ruang. Kakaknya pergi meninggalkan meja makan tanpa mengatakan sepatah kata. Meninggalkan adiknya sendirian di situasi ini.


Kini harapan gadis ini lenyap.


“Sarah, masuklah ke kamarmu sekarang,” pinta ayahnya


Sarah dengan kepala tertunduk pergi meniggalkan ruang makan perlahan. Meninggalkan spaghetti-nya yang masih mengeluarkan uap panas, bahkan belum tersentuh olehnya sedikit pun.


Sarah mengunci dirinya di dalam kamar. Duduk sendirian ditengah sudut kamar dalam kegelapan. Memeluk lutut dan menempelakan wajahnya ke bawah.


Cringg


Suara vas bunga pecah terdengar dari luar pintu kamar Sarah, namun Sarah sekarang sudah tidak memdulikan bunyi tersebut. Ia tenggelam dalam kesedihannya.


“Kau sekarang ingin meminta perceraian?”


“Aku akan membawa anak-anakku.”


“Dan sekarang kau akan mengambil semua anak-anak?”


“Baiklah jika itu maumu, satu dari kita akan mengambil satu dari mereka.”


Sarah mendengar semua pertengkaran mereka. Walapun orang tuanya berada di ruangan yang sangat jauh dari kamarnya, tetap saja suara dari mereka terdengar mengema sampai ke anak-anak. Sarah sudah tidak tahan lagi dengan semua penderitaan yang ia hadapi setiap hari. Ia tidak ingin hal ini terjadi, namun ia tahu cepat atau lambat orang tua mereka akan tetap melakukan ini setiap malam. Padahal ia hanya ingin meminta satu permintaan sebelum hari ulang tahunnya tiba beberapa hari lagi. Tidak.. Mungkin yang ia inginkan lebih dari sekedar permintaannya, tidak di sekolah atau di rumah. Yang Sarah inginkan hanyalah kehidupan seorang anak sma biasa. Dan keluarga yang bahagia.


Karena tidak tahan dengan yang ia hadapi saat ini, Sarah bangkit dari peratapannya dan mencari-cari sesuatu di meja belajarnya. Sampai-sampai membuang segala yang tidak ada kaitannya dengan barang yang ia cari. Hingga akhirnya sebuah cutter jatuh diantara barang-barang tadi. Sarah memerhatikan cutter itu. Ia menarik ujung baju lengan panjangnya sampai terganjal di siku.


Terlihat lengan Sarah dipenuhi dengan dengan perban yang terbalut sepanjang kedua lengannya. Dibalik perban tersebut tergores berbagai macam luka yang tidak bisa diobati oleh hatinya. Ia melampiaskan semua ketakutan, kecemasan, dan rasa bersalahnya melalui luka yang disayatnya sendiri di atas permukaan kulit tangannya yang terlihat sangat tipis.


Namun perasaan Sarah kali ini terasa aneh. Ekspresinya memperlihatkan seorang yang telah mati rasa akan rasa sakit yang disayatnya sendiri. Maka Sarah menjatuhkan cutter yang dipeganggnya. Pandangan perlahan memudar dan kembali fokus. Mengintip ke arah jendela kamarnya. Terasa tapi tidak bersuara, jendela itu seperti memanggil Sarah untuk membukanya.

Sarah perlahan berjalan ke arah jendela kamarnya. Menarik tirai abu-abu transparan ke tepi bingkai. Menarik pegangan jendelanya bersamaan dengan suara yang terus-menerus berputar diatas kepalanya.


Jendela itu menarik Sarah untuk kabur dari seluruh penderitaannya. Angin malam berhembus dingin ke arah Sarah seolah ikut memanggilnya keluar. Sarah menghilang bersamaan dengan tirai yang berkibar menutupi keberadaannya di depan jendela.


***

Suara itu terdengar tidak begitu asing di telinga Sarah. Entah dimana ia pernah mendengar suara itu. Namun begitu melihat seorang dibalik mekaran payung tersebut, mata Sarah tidak asing dengan penampilan dari orang tersebut. Ivan, murid sekelasnya yang selalu duduk di sudut belakang samping jendela. Orang yang sangat hemat omongan di kelasnya.


“Kau tau, aku berpikir hal yang kau lakukan saat ini tidak begitu baik.”


“Pergi sana!” usir Sarah dengan suara lembut.


“Apa yang kau katakan? Aku tidak bisa mendengarmu karena hujan,” teriak Ivan sengaja meledakan suaranya. Padahal Ivan tahu persis apa yang telah dibicarakan Sarah tadi tapi ia hanya berpura-pura tidak mendengarnya.


“Pergi saja dari sini!” ulang Sarah berteriak di tengah kebisingan hujan yang menemani. Ia merasa sangat kesal kepada Ivan yang tiba-tiba muncul dan mencampuri urasannya. Padahal jikalau Ivan tidak memanggilnya tadi, mungkin saat ini ia sudah bisa merasakan ketenangan menurutnya.


“Kalau begitu melompatlah! Kau mungkin hanya akan merasakan sakit sesaat, tapi mungkin orang-orang disekitarmu akan merasakan sakit yang lebih dari yang akan kau rasakan.”

Mendengar nasiihat yang keluar dari mulut laki-laki itu membuat perasaan Sarah semakin campur aduk. “Memangnya apa yang tahu? Kau tidak tahu apa yang kualami selama ini. Jadi diamlah-“


“Sesak!”


Itu adalah kata yang diucapkan Ivan kepada Sarah.


Sarah seketika terbisu dengan satu kata itu. Kata yang telah mewakili semua perasaan Sarah.

“Rasanya sesak. Rasanya seperti ada benda besar yang mengganjal di dalam tubuhmu dan itu membuatmu sulit bernapas. Terutama saat malam hari.” Ungkap Ivan terang-terangan dengan perasaan yang sulit untuk digambarkan.


Sarah entah mengapa bisa mengerti dengan semua yang diucapkan oleh Ivan saat ini. Semuanya bahkan ia sampai bisa merasakan isi hati dari Ivan. Semuanya begitu sulit dan dipenuhi oleh luka. Sarah merasa bahwa orang yang berdiri di depannya ini mungkin telah menerima penderitaan yang jauh lebih sakit dibanding dengan yang ia rasakan selama ini.

Hati Sarah perlahan terbuka.


Ia hendak menjauh dari tepi trotoar jembatan, namun karena hujan yang membanjiri sepanjang jalan membuat permukaan jalanan menjadi licin Sarah tergelincir dan jatuh ke arah belakang pagar pembatas.


Bruukkk


Payung hitam terjatuh.


Ivan berhasil menangkap dan menarik Sarah ke belakang. Mereka terjatuh bersama. Ivan memeluk kepala Sarah dan bersedia menjadi bantal untuk menggantikan Sarah yang hendak jatuh ke aspal.


“Jangan pernah melakukan itu lagi oke.”


Sarah membuka matanya dan mendapati dirinya berada di dalam pelukan Ivan. Sementara Ivan menyembunyikan matanya dengan tangan kiri dan tangan kanan yang memeluk Sarah erat. Ivan menyembunyikan perasaannya dari balik tangan tersebut.


“Jangan lakukan itu lagi oke,” ulang Ivan beberapa kali.


Sarah terlihat bingung dengan Ivan. Mau bagaiman pun Ivan menyembunyikan wajahnya di balik satu tangan itu, anak kecil pun tahu kalau dia sedang menangis disana. Namun Sarah memilih untuk berpura-pura tidak tahu. Yang ia tahu saat ini setidaknya ada orang yang masih peduli pada dirinya. Sarah membalas peluk Ivan pelan sambil bersandar di dada Ivan. Saat itu mereka terlihat seperti dua orang konyol yang tidur di bawah derasan hujan.


Beberapa saat kemudian mereka duduk di depan teras toko serba guna. Ivan membelikan Sarah minuman hangat dari toko yang mereka tumpangi. Untung tidak jauh dari arah jembatan terdapat toko kelontong yang bisa mereka jadikan tempat meneduh sekaligus menghangatkan tubuh Sarah. Ivan sangat khawatir Sarah akan terkena demam akibat berlama-lama membiarkan tubuhnya basah kuyup.


“Anuu... Ehm, terima kasih telah menyelamatkanku,” tutur Sarah menunduk.

Ivan mendekat dan menjongkok untuk menyamakan kepalanya sejajar dengan milik Sarah.


“Hey, dulu aku pernah diselamatkan oleh seorang gadis kecil yang polos. Ia selalu mengomeliku setiap hati di taman bermain. Karena dirinya aku tersadar bahwa aku harus lebih mencintai dan menjaga diriku sendiri, karena itu adalah langkah awal untuk menjadikan diri kita sedikit lebih baik,” pandangan Ivan teralih pada balutan perban yang yang melilit tangan Sarah di balik pakaian tangan panjangnya yang basah kuyup.


Ivan tahu bahwa itu adalah luka yang dibuat sendiri oleh Sarah untuk mengalihkan dirinya dari masalah keluarganya. Mengingat keluarga Sarah adalah keluarga terpandang, Ivan lega bahwa luka tersebut tidak disebabkan oleh orang lain selain dirinya sendiri. Seketika Ivan teringat pada anak kecil yang selalu dipenuhi luka.


“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Pikiran Ivan tersadar kembali dari kenangan buruk itu.

Ivan tersenyum tipis kepada Sarah.


‘Anak kecil itu pun sampai sekarang terus menjagaku ya’


Ivan bangkit dan melompat. Ia menyodorkan tangannya ke arah Sarah.


“Kau tahu, aku menulis beberapa buku belakangan ini. Apa kau mau melihatnya besok di sekolah?”


Sarah terlihat sedikit ragu dengan tawaran Ivan. Sarah tahu bahwa itu berarti ia harus masuk kembali ke dalam rumahnya. Tapi dengan melihat ekspresi Ivan yang tersenyum kepadanya, membuatnya terpikir untuk menghadapinya. Mungkin dengan adanya Ivan sekarang Sarah bisa menyelamatkan dirinya kembali. Untuk menemukan arti hidup yang sebenarnya...


- Kalian jatuh sendiri, ngobatinnya sendiri, bangkit sendiri. Maka jaga dan cintailah diri kalain sendiri -


Cerita pendek ini ditulis oleh Devano


 
 
 

Recent Posts

See All

Comments


  • Facebook
  • Twitter
  • LinkedIn

©2021 by thetruenesstroops. Proudly created with Wix.com

bottom of page