top of page
Search

BE GREATFULL, RAE!

  • Writer: The Trueness Troops
    The Trueness Troops
  • Apr 15, 2021
  • 13 min read

Raelyn Kanessa Prameswari. Gadis SMA GARUDA 04 yang menjadi siswi terbaik di tahun ini dan tahun sebelumnya. Bukan karna suatu kebetulan, namun sudah mutlak dan takdir yang menjadikan Raelyn sepopuler ini. Paras wajah yang amat cantik, tinggi badan ideal, wajah putih, dan juga kepopulerannya menjadikan Raelyn layaknya seorang ratu di SMA GARUDA 04.

Bergabung di eskul seni lukis, makin menambah kepoluleritas miliknya di tahun ini. Raelyn nyaris bisa disebut sempurna. Faktor yang menyebutkan bahwa Raelyn berasal dari keluarga yang terpandang, membuat banyak sekali teman-teman sekolahnya yang mengagumi Raelyn secara terang-terangan.


Kini, gadis dengan rambut dikuncir itu sedang termenung di belakang sekolah. Bersandar pada pohon tua yang entah sudah berapa tahun umurnya. Hembusan nafas yang begitu berat terdengar di sana. Raelyn lantas menutup mata rapat-rapat. Berusaha menenangkan diri di tengah-tengah keheningan.


"Lo tuh cantik, banyak duit, populer, siapa, sih, yang enggak mau sama lo? Nih, ya. Kalo gue cowok, udah gue gebet lo dari lama."


"Sial." Raelyn mengumpat diam-diam. Kepalanya menunduk. Ucapan Vabi—teman dekatnya—pagi tadi, ternyata sangat ampuh membuat Raelyn menjadi overthinking seperti sekarang.

Banyak orang yang begitu menyukainya, mendambakannya, bahkan ada beberapa yang menjadikan Raelyn sebagai idola. Namun, bukankah mereka melakukan semua itu karna kepoluleran milik Rae, dan juga kecantikan miliknya?


Apa yang akan terjadi jika suatu saat nanti dirinya tiba-tiba berubah menjadi Si Buruk Rupa yang menyedihkan? Akankah mereka tetap bersama Raelyn? Atau malah pergi begitu saja dan malah mem—bully—nya sama seperti yang terjadi pada Naraya—Si Buruk Rupa—di sekolahnya?

Banyak orang yang menyebutkan bahwa hidupnya sangat benar-benar terlihat menyenangkan. Dan, Lagi-lagi Raelyn akui itu adalah benar. Lagipula, siapa, sih, yang tidak mau menjadi dirinya? Jujur, Raelyn pun bahkan mengaggumi dirinya sendiri sedari lama. Namun, kini tiba-tiba otaknya berpikir keras. Bagaimana jika nanti, mereka semua meninggalkan Raelyn begitu saja jika mereka semua sudah tahu kekurangannya?


Mata yang lancip itu terbuka perlahan. Raelyn setenang mungkin menghirup pasokan oksigen lalu mengeluarkannya dalam hening. Tangannya bergerak menyentuh rambut. Raelyn dengan sengaja menutup jerawat—yang muncul di dahi dan datang tadi pagi—dengan helaian rambut itu.


Tidak. Tidak boleh ada yang tahu jika dirinya sedang dalam masa breakout. Jika salah seorang pun tahu—termasuk temannya sendiri— Raelyn yakin, pasti seisi sekolah akan langsung membicarakan kekurangannya ini. Masalahnya, dari dulu Raelyn memang tidak pernah muncul jerawat. Yeah, ini adalah pertama kalinya gadis itu didatangi jerawat.


Jika yang datang satu atau dua, fine. Raelyn sama sekali tidak keberatan. Namun, mengapa yang datang ternyata cukup banyak dan besar semua? Cih. Menyebalkan. Rasanya ingin sekali gadis itu mengulang waktu, agar bisa menghentikan dirinya sendiri untuk membeli salah satu produk kosmetik yang membuat wajahnya menjadi seperti ini.


"Rae, lo lagi ngapain di sini?" Raelyn terlonjak. Sontak, ia menengok ke arah belakang. Matanya yang tadi sempat membulat langsung berubah menjadi biasa saja saat mengetahui yang berbicara tadi adalah temannya—Vabi—


"Vab, lo bisa gak sih, gausah bikin gue kaget setiap hari?" gerutu Raelyn jutek. Merasa sebal karna dirinya kira, yang tadi bicara seperti itu adalah guru. Ya ... soalnya dirinya pergi kemari pun diam-diam. Hehe.


"Ya lagian, sih! Tumbenan bolos. Ke tempat kek gini pula bolosnya. Ada masalah hidup apa, lo?" tanya Vabi menaruh curiga. Gadis yang tadi merasa kaget langsung membuang muka. Memilih memandangi pemandangan pepohonan—yang ada di sana— daripada menjawab pertanyaan Vabi yang selalu menjebak.


"Dih, ditanya malah gak jawab," desis Vabi lalu dengan sigap, langsung duduk di samping Raelyn yang sedang bersandar di pohon. "Gue serius nanya, lo kenapa?"


Rae menghembuskan nafas lelah. Kepalanya menoleh ke samping. Menatap Vabi dengan tatapan serius juga tatapan memohon di satu waktu yang sama. "Vab, kalo semisalnya gue jadi jelek, lo masih mau temenan sama gue?"


Satu detik kemudian, bukanlah jawaban yang Rae dapatkan. Namun, tawa keras yang Vabi keluarkan saat mendengar pertanyaannya. Sialan. Lihat sendiri, 'kan? Vabi memang tipikal teman yang tak bisa diajak berbicara serius.


"Anjir, lah. Pertanyaan lo ga masuk akal, Rae," ucap Vabi masih diiringi tawa kerasnya. Mendengar jawaban itu, Rae langsung menggerutu dalam hati. Mulutnya langsung manyun, tanda kurang puas dengan jawaban—yang sebenarnya bukan jawaban— dari Vabi.

Rae mendekat, "Maksud lo? Gak masuk akal di sebelah mananya?" tanya Rae sedikit menaburi nada emosi di sana.


Vabi menyelipkan beberapa helai rambut ke atas daun telinganya. Ia lantas mengambil beberapa polaroid—dari tas— dan memberikan kertas-kertas berisi foto itu kepada Rar. "Nih, lo liatin muka lo. Jelek ga?"


Mata Rae langsung terarah pada polaroid itu. Kaget, gadis itu refleks terlonjak dari tempatnya. Ini ... foto dirinya yang Vabi tangkap secara diam-diam? Hei! Apa maksudnya? Sejak kapan Vabi memotret dan mencetak fotonya sebanyak ini? Gila! Merasa gejolak rasa kesal mulai terasa, Rae lantas menatap Vabi geram.


Polaroid itu dengan kasar ia lempar ke arah Vabi. Mendapatkan lemparan polaroid dari Rae, Vabi—yang seharusnya marah— malah terkekeh pelan. "Apa? Lo mau marah karna gue cetak foto lo sebanyak ini?"


"Sinting!" umpat Rae kepalang kesal. Tangannya meraih tas secepat kilat. Baru saja akan bangkit dari tempat, tangan Vabi sudah lebih dulu mencekalnya dengan sangat keras.

"Ih, lo mau kemana?" tanya Vabi sedikit kaget dengan reaksi Rae yang ternyata marah sungguhan kepadanya. Berdecak sebal, itulah yang Rae lakukan. Tangannya menepis pegangan Vabi. Lalu, dengan keadaannya yang masih kesal, ia menjawab ketus, "mau pergi jauh-jauh. Males punya temen lesbi kek lo."


"HEH, GA GITU ROMLAH KONSEPNYA!" amuk Vabi tak terima disebut lesbi oleh Rae. Gadis itu tiba-tiba ikut bangkit dari tempatnya, sembari merapihkan polaroid-polaroid yang berisikan foto Rae.


"Ini tuh, gue di suruh sama anak kelas sebelah. Katanya, kalo dapet foto lo dalam posisi lagi gak sadar kek gini, gue bisa dapet duit. Lumayan, 'kan?" jelas Vabi sambil menyengir kuda.

Kedua bola mata Rae berotasi. Tak lupa, decakan khasnya kini terdengar lagi. Dengan tatapan yang sangat malas, ia terpaksa menatap Vabi—teman baik hati, dan juga tidak sombongnya ini—

"Vab, lo mau jual aib temen lo cuma demi duit?" tanya Rae sedikit tak percaya. Ah, sudahlah. Mengapa lama kelamaan, cowok yang mengincarnya kini malah terlihat sangat terobsesi? Lihat saja, entah siapa yang menyuruh Vabi untuk mengambil gambarnya secara diam-diam dan mengupahi Vabi hanya untuk foto-foto tidak berguna itu?


"Aib?" Vabi mengulang kata yang Rae ucapkan, "ini? Foto lo yang lagi diem ini lo sebut aib?"

"Heh, Romlah!" Vabi menyentak hingga ke nada tinggi, "lo diem aja cakep! Apalagi kalo gue suruh lo foto sambil gaya? Bisa mleyot satu sekolahan!" omel Vabi geram sendiri mendengar respon Rae.


Mendengar ocehan Vabi, Rae lantas berdiri sambil menajamkan tatapannya, "Vab! Lo bisa ngerti ga si? Gue itu lagi insecure! Puas, lo?!" bentak Rae sedikit frustasi. Tanpa menunggu jawaban dari Vabi—gadis yang kini tercengang karna mendengar bentakan dari sahabatnya—Rae langsung melangkah pergi begitu saja.


Marah. Kesal. Geram. Semuanya beradu menjadi satu. Di langkah per langkahnya, hanya ada umpatan kecil yang Rae ucapkan dengan volume rendah. Ia tahu, yang Vabi lakukan itu bagus untuk membuatnya merasa tidak insecure lagi. Tapi, apa harus dengan memotretnya diam-diam dan diberikan kepada lawan jenis?


Vabi memang sudah gila.


Tak henti-henti menggerutu, Rae melangkahkan kakinya penuh dengan amarah. Tangannya terkepal kuat, menjadi pelampiasan kekesalannya kali ini. Wajahnya berubah menjadi super judes. Bahkan, Rae kali ini lupa memasang senyum cerita ketika orang lain melewati dirinya.

Suara riuh serta gemuruh di sekitarnya—saat Rae sudah berada di pinggir lapangan— sama sekali tidak berhasil membuat Rae sadar dari kekesalannya. Gadis itu masih sibuk menggerutu hebat, dan juga berdebat dengan egonya sendiri di dalam hati. Menggerutu, bagaimana rasa sedikit kecewanya, saat Vabi—teman yang paling ia percayai sendiri— rela melakukan hal bodoh seperti itu hanya demi uang.


DUG!


"AARGHH!" Bertepatan dengan jatuhnya bola basket ke atas kepala Rae, gadis itu sontak berteriak keras. Mendengar seorang primadona sekolah yang dikenal sangat menjaga attitude-nya, berteriak bergitu saja dan memasang wajah galak pada Sang Pemain bola basket, lantas membuat seisi siswa dan siswi yang berada di lapangan saat itu terkejut bukan main.

"Heh! Itu demi apa si Rae yang nampilin muka judes?"

"Bentar, ini primadona sekolah yang katanya enggak pernah marah sama sekali, 'kan?"

"Wait, liat mukanya dari pinggir. Ada jerawat di sana. Ga sedikit, lumayan nimbul. Lho, dia juga bisa jerawatan, ya?"


"Wkwkwk, Rae kalo punya jerawat jelek juga, ya. Gak jadi gebet deh gue. Mau nyari yang bener-bener mulus aja."


"LO PUNYA MATA GA?" bentak Rae dengan nada yang sangat tinggi. Kali ini, bukan hanya para murid saja yang tercengang kaget. Namun, beberapa staff sekolahan yang sedang ikut menonton pertandingan bola basket pun terkaget-kaget.


Pertanyaannya dianggurkan bergitu saja, tentu saja kembali membuat Rae menyulut emosi seraya mengepal kedua tangannya, "Malah diem, punya attitude, ga lo?!"


Tidak sadar bahwa seisi sekolah memperhatikannya, gadis dengan rambut berantakan—dengan beberapa jerawat baru di wajahnya—itu kembali geram. Emosi, Rae mengambil bola basket—yang jatuh dan berada di samping kakinya— dan dengan sekuat tenaga, melempar ke arah cowok dengan seragam eskul basket, yang ia ketahui bernama—Ocean Bagaskara.

BUGH!


Semua orang kembali tercengang. Baru kali ini, dalam hidup mereka—menyaksikan kemarahan Rae—yang sepertinya sama sekali tidak bisa dikendalikan. Bola basket itu, dalam hitungan detik tentu saja berhasil mendarat tepat di wajah Ocean—Sang Pemain basket yang melempar basket ke arah wajah Rae dengan secara tidak sengaja tadi.


Kaget dengan pembalasan dendam yang Rae lakukan padanya. Dengan gaya cool dan terlihat tidak emosi sama sekali, Ocean lantas berjalan ke arah gadis itu dengan sangat tenang. Tak luluh dengan reaksi Ocean yang nampak tabah menerima balasannya, Rae masih setia memasang wajah sangar.


"Mau apaan lo?!" tanya Rae kencang saat Ocean, mengulurkan tangannya begitu saja. Mengulum senyum tipis, itu yang Ocean lakukan saat ini. Baginya, tidak akan ada gunanya berdebat di saat-saat seperti ini.


"Gue minta maaf. Tadi beneran gak sengaja." Uluran tangan itu masih mengambang di udara. Beberapa kali Ocean lempar tatapan heran ke arah Rae—karna gadis itu tak kunjung menggapai uluran tangannya—


"Hei, lo gapapa?" tanya Ocean sambil menyentil jidat Rae pelan. Merasakan jidatnya di sentuh, lantas Rae langsung tersadar dari lamunannya tadi.


"Hah?" beonya kelewat bodoh, "lo minta maaf?" Kepala Ocean terangguk. Melihat itu, tanpa banyak bicara lagi Rae langsung saja menerima uluran tangan dari Ocean.


"Lain kali hati-hati, kepala gue perih kena bola dari lo," sindir Rae berbisik. Pegangan tangan itu terlepas. Baru saja gadis itu berbalik—hendak pergi ke kelasnya—Ocean sudah terlebih dahulu mencengkal tangan Rae.


"Apa, sih?" Risih bukan kepalang. Rae dengan sinis langsung menepis cekalan tangan itu. Ocean terdiam. Namun, matanya terfokus pada sesuatu di wajah Rae. Semakin bingung dan panik di satu waktu yang sama, Rae langsung mendorong bahu Ocean.


"Lo liat apa?" tanya gadis itu bingung.


Ocean masih diam. Namun tak lama kemudian, cowok itu langsung menunjuk ke arah dahi samping di wajah Rae, "jerawat lo ... betus?"


Sialan. Tendangan bola dari Ocean ternyata berhasil membuat keadaan jerawatnya semakin parah.


*****

"Itu tadi serius si Rae yang jerawatan?"


"Lo liat ga mukanya? Anjir, merah banget! Biasanya Rae mau panas mau dingin, tetep putih."


"Gila, gatau kenapa kok jadi ngerasa gimana gitu ya, ke, Rae? Ah, unfollow instagramnya aja. Rae udah enggak kek dulu lagi."


"Sinting, lo? Gue juga tadi liat dia kek marah banget gitu. Gak bisa jaga attitude banget, si itu anak?"


Rae mengencangkan pegangannya pada hoodie hitam yang dikenakannya sekarang. Kacamata hitam, juga masker penutup wajah ia gunakan sebagai penyamaran. Setelah jerawatnya betus—dan juga bernanah—sebegitu banyaknya di lapangan, Rae secepat kilat kabur ke kamar mandi untuk membersihkan semuanya.


Naas, pergerakannya cukup lambat. Juga ... Ocean berkata terlalu kencang. Ya, jadi mereka semua mendengar percakapan itu. Sialan. Ini hari terburuknya, bukan? Bahkan, ada banyak sekali orang yang mengunfollow-nya di Instagram.


Rae bolos. Dirinya tak mau menjadi bahan omongan di kelas nanti. Telpon dari Vabi pun tak kunjung diangkatnya. Lemparan bola basket dari Ocean siang tadi ternyata sangat berhasil membuat wajahnya semakin buruk. Tidak. Bukan hanya rasa perih atau sakitnya yang terasa, namun ... karna jerawat yang betus tadi, kini jerawat-jerawat lain muncul sangat cepat.

SIALAN! Mengapa harus sekarang, sih? Apalagi stok skincare-nya sudah habis. Menggunakan skincare yang kemarin ia beli hanya akan membuat kulitnya semakin rusak. Ya, karna produk itu sama sekali tidak cocok dengannya!


Bukannya tidak mampu membeli yang baru atau bagaimana. Akan tetapi, uang bulanannya sudah hampir habis karna Rae tak kunjung mentraktir Vabi—dan juga teman-temannya yang lain minggu ini.


Bell sekolahan tiba-tiba berdering dengan sangat nyaring. Rae menghela napas berat. Setelah ini, ia harus pintar-pintar menyamar agar tidak dikenali di sekitar teman-temannya. Ya, semoga saja.


Kakinya berjalan seiringan bersama teman satu sekolahnya yang lain menuju parkiran dan gerbang sekolah. Dikarnakan, ayahnya tidak bisa menjemput sekarang, terpaksalah Rae harus menaiki angkutan umum mau tak mau. Ya, sial sekali.


Keadaan semakin ramai. Mereka semua—termasuk Rae—berbondong-bondong keluar dari sekolah untum segera pulang. Langkah demi langkah, Rae lewati dengan perasaan yang campur aduk. Ada sedikit rasa panik mencubitnya. Apakah besok, Rae siap menjadi omongan seisi sekolah? Ah, sial. Apa ia harus pindah sekolah saja, ya? Namun, rasanya mustahil. Dirinya sudah kelas 12 sekarang. Ayahnya, pasti tidak akan mengizinkan.


Hap! Rae berhasil berada di depan gerbang sekarang. Bisa is lihat, Vabi—dan temannya yang lain—sedang berada di sebrang jalan. Wajah temannya itu sedikit panik, mungkin kewalahan mencari dirinya yang sedang pura-pura hilang.


Kepala Rae melihat ke arah kanan dan kiri secara berurutan. Berniat menyebrang untuk mendapatkan angkutan umum yang searah dengan rumahnya. Melihat jalanan sepi—hanya dipinggirannya saja yang ramai oleh para murid—Rae berjalan begitu saja dengan sedikit tergesa-gesa.


"Wait, siapa sih, cewek yang tadi? Yang gelud sama Ocean? Yang kata lo cantik?"

Mendengar suara dari belakang, dengan durasi yang sangat cepat. Jantung Rae merasa berdebar-debar panik sendiri. Langkahnya melambat. Namun, secara tak sadar dirinya tak tahu jika ada mobil di arah kanan yang sedang melaju kencang di sana.

"Raelyn? Yang dijulukin primadona sekolah itu?"


Deg.


Hati Rae semakin gelisah. Untuk pertama kalinya, ia mendengar orang lain membicarakan ia di belakang seperti ini. Bodoh. Bukannya menjauh, Rae refleks menghentikan langkahnya di tengah jalan.


"Nah! Gila! Lo bilang yang kayak gitu cantik? Dih."


BBBBRRAAAGGGHHHHH!


Tubuh Rae terlempar dari tempatnya berdiri tadi. Mobil berwarna merah yang melaju kencang tadi—kini berhasil menabrak Rae tak kalah kencang pula. Semua orang berteriak kaget. Apalagi saat masker yang Rae gunakan jatuh saat gadis itu terlempar cukup jauh.


"RAE!"


DDUGGHHH!


Kepala gadis manis itu membentur tiang listrik yang menjulang tinggi. Wajahnya terjatuh ke arah aspal dengan sangat brutal. Bukannya menghentikan lajunya, pengendara sopir mobil berwarna merah itu malah siap menabrak gadis malang yang baru saja akan bangkit dari tempatnya.


"AAARRRGGHHHHH!" Rae menjerit lara. Baru saja berdiri, mobil sialan tadi—langsung menabraknya lagi—dengan durasi yang sangat cepat dan singkat. Wajahnya menyentuh aspal dengan sangat gila. Jeritannya semakin menguar tatkala tubuh ramping itu berhasil berada di bawah mobil karna tabrakan tadi.


Darah segar mengucur deras. Seakan-akan ingin menyiksa Rae di saat-saat seperti ini. Tangan gadis itu terkulai lemas. Rasa perih dan juga sakit menjalar di wajahnya. Wajah Rae dan aspal benar-benar beradu dengan sangat kasar. Bahkan, bisa Rae sadari, kini wajahnya sudah menjadi rusak karna itu.


Di detik-detik terhitamnya, tepat beberapa detik sebelum gadis cantik itu menutup mata, suara gemuruh datang dan juga mengerubungi mobil yang berada di atasnya. Ia benar-benar tidak kuat, ini sangat sakit. Gadis itu sudah tak bisa menahannya lagi agar bisa terus membuka mata.


Satu ...


Yang Rae ingat, hari ini adalah hari terburuk di seumur hidupnya.


Dua ...


Yang Rae tahu, semua orang menyukainya karna kecantikan fisik yang ia punya.

Tiga ...



Mereka semua ... adalah lintah menjijikan penuh dengan kebohongan.


"RAELYN!" Terlambat. Gadis itu sudah terlebih dahulu dibawa oleh ksatria kegelapan.


*****

Diam. Jangan bicara apa pun lagi. Kini, semua yang ia punya telah pergi. Apa yang telah ia impikan selama ini ... hancur dan hilang begitu saja bagai mimpi di musim semi.

Sia-sia. Percuma dirinya selama ini memiliki banyak teman. Jika pada akhirnya, mereka hanya bisa mengkhianatkan. Tidak ada satu pun seseorang ... yang mau berada di posisi Rae sekarang.

Gadis itu meringis. Memeluk dirinya sendiri di tengah malam gulita seperti ini. Wajahnya sudah hancur. Sama sekali tidak cantik seperti dulu lagi. Iya. Karna kecelakaan sialan, itu ... satu-satunya hal yang bisa Rae banggakan hilang begitu saja.


AHAHAHAHAHAH!


Beauty is pain. Kini, Rae percaya dengan kata-kata itu. Followers instagram-nya, kini turun secara sangat drastis. Lantaran, ada salah satu orang sekolah—yang bertemu dengan Rae di rumah sakit—dan memotret keadaan Rae saat ini dengan diam-diam.


Foto itu ... adalah aib terbesar yang pernah Rae miliki dalam hidupnya. Tulang hidung Rae patah, matanya bengkak karna alergi debu, mulutnya sedikit sobek, pipi dan dahinya kini banyak sekali luka gores karna berperang dengan aspal jalanan.


Ya. Rae yang dulu telah hilang. Gadis itu sudah merengek kepada Sang Ayah—agar mengizinkannya melakukan operasi plastik—namun sayang, Ayahnya menolak mentah-mentah, dengan alasan bahwa Rae masih terlalu sangat muda.


Bunuh saja dirinya sekarang. Vabi bahkan sekarang tidak menghubunginya lagi. Mungkin, gadis itu malu memiliki teman buruk rupa seperti Rae. HAHAHAHHAHA, INI BENAR-BENAR MENYAKITKAN. TIDAKKAH MAUT BISA MENJEMPUTNYA SEKARANG?


Rasa insecure yang Rae miliki sekarang menjadi berlipat ganda. Malu sekali. Rae benar-benar malu dengan wajahnya sekarang.


"M-mati ...." Tertatih-tatih, ia bangkit untuk berdiri. Berjalan pincang-pincang ke arah keluar dari kamar di Rumah Sakit Budi Rahayu ini. Tidak ada yang menjaganya. Ayah sibuk harus kembali fokus pada pekerjaannnya. Pembantu? Tidak. Meski kaya raya, tetapi Rae sama sekali tidak memiliki yang namanya pembantu di rumah.


Sedih memang. Di saat dirinya berada di titik ini, sosok keluarga sama sekali tidak ada untuk melindunginya. Ibu? Malaikat tanpa sayap yang pernah Rae miliki itu ... sudah tenang di sisi Tuhan.


Senyum Rae mengembang, tatkala lift—yang ia naiki tadi—berhenti tepat di lantai gedung paling atas. Ucapan-ucapan buruk dari orang lain tentangnya tiba-tiba berdengung jelas. Bukannya sedih, senyum Rae kini malah semakin mengembang, "Mati."


Kakinya berjalan keluar dari lift. Langsung belok ke kiri dan menaiki anak tangga satu per satu. Senyumnya benar-benar tidak luntur. Rae terkekeh hambar, sesekali tertawa nyaring saat mengingat hate komen yang ia temukan di postingan tentangnya di akun gosip milik sekolahnya.

"Bunda? Bunda, aku bentar lagi nyusul Bunda," bisik Rae pada dirinya sendiri. Setelah lelah menaiki tangga. Kini, lanjut lah ia membuka kenop pintu—atas rooftop rumah sakit—dengan perasaan yang sangat gembira, "AHAHAHAH, BUNDA LIAT! AKU BENTAR LAGI MATI!"


Pintu terbuka. Rae dengan durasi yang sangat cepat langsung berlari gila. Rambut panjang hitam pekatnya terombang-ambing menabrak angin malam dari atas sini. Kerlap-kerlip bintang sungguh menambah nuansa rasa bahagia yang Rae salah artikan maknanya.

Bahagia = mengakhiri segala derita.


Larinya semakin cepat. Bersiap-siap melompat dari gedung ini tanpa ingin berpikir panjang. Kejadian beberapa hari lalu di sekolah kembali terngiang saat larinya. Tawa Rae semakin terbahak, mengingat ada orang yang menyebutnya jelek di hari kecelakannya itu.


"AHAHAHAHAH BUNDA, AKU BENTAR LAGI MATI!" teriak Rae gila menatap lurus dengan kaki yang tak berhenti lari. Tidak ada pembatas di sini, sungguh menguntungkan bukan? Rae bisa mati tanpa harus melewati pembatas gedung AHAHAHAHA!


Jarak kian menipis. Beberapa langlah lagi Rae berlari, beberapa langkah pula Rae menjemput kematiannya sendiri. Tepat dua langkah sebelum gadis itu benar-benar melompat, Rae berteriak gila, "MATI RAE MATI!"


"RAELYN! LO GILA?!" Pinggangnya dipeluk seerat mungkin. Sedetik kemudian, Rae melotot. Sontak, gadis itu menjerit gila kepalang kesal karna pergerakannya di hentikan.


"AAKKKKKKHHH, SIALAN LO!" berontak gadis gila itu saat dirinya digendong paksa oleh seseorang di belakang. Ia menggeliat-liat menolak diselamatkan. Pegangan di lingkaran perutnya sekuat mungkin Rae longgarkan. Namun naas, tenaga seseorang yang menyelamatkannya lebih besar daripada dirinya.


"Raelyn! Lo udah sinting?" tanya Ocean lantas melepaskan pegangannya pada pinggang Rae.

Gadis itu tertawa, "Iya! Gue sinting. Mau apa lo?"


"Rae! Lo harus pikir panjang. Bunuh diri bukan jalan terbaik! Lo itu berguna, Rae. Lo kenapa? Lo tertekan sama perilaku orang-orang sekolah ke elo?" tanya Ocean lagi sambil menatap Rae begitu lekat, tajam, dan juga menusuk.


Yang ditanya langsung terdiam. Seketika, gadis itu baru sadar dengan hal gila yang hampir ia lakukan. Perlahan, Rae menoleh ke samping gedung. Jika saja tadi Ocean tidak menahannya, bukankah tubuh Rae sekarang sudah tak bernyawa dan hancur?


"Rae, lo bener-bener mikir bahwa mereka suka sama lo karna fisik lo doang?" tebak Ocean dan Rae sontak mengangguk.


"Lo nanya hal itu? Lo liat aja hate komen mereka di instagram. Mereka emang penjilat darat," jawab Rae lemah. Ingin kembali emosi, namun tenaganya sudah benar-benar hilang sekarang.

Mendengar jawaban lemah dari Rae, Ocean lantas mendekat. Menarik Rae dan memberinya pelukan hangat sebagai teman. Mengelus-elus punggung Rae agar sedikit menjadi tenang.

"Hei? Yang bilang lo jelek siapa? Mereka?" bisik Ocean namun kali ini diacuhkan oleh gadis di dekatnya, "beauty is pain. Lo tau itu. Mereka emang suka sama lo karna kagum sama titipan Tuhan.


"yang dia kasih ke elo. Dan, cowok-cowok yang suka sama lo, emang para kumpulan brengsek yang cuma suka lo dari fisiknya."


Pelukan itu dilepaskan. Mata kelam Ocean kembali menusuk Rae dengan tatapannya. Gadis yang ditatap hanya mematung. Memikirkan ucapan Ocean yang ternyata ada benarnya juga.


"Lo cantik, dan lo ... ga perlu pengakuan orang lain buat ngebuktiin bahwa lo emang beneran cantik. Semua unik dan cantik dengan karakternya masing-masing," timpal Ocean tenang, setenang air, "kalo kata orang lain lo jelek, emang mereka lebih dari lo? No, 'kan?"


Dunia Rae berputar. Kini, hidupnya terasa diulang kembali. Pikirannya sudah jernih. Untaian-untaian kata mengerikan yang ia siapkan untuk Ocean tadi lenyap seketika. Tanpa sadar, gadis itu mengukir senyum ikhlas dalam beberapa detik.


"But, gimana sama temen-temen gue? Mereka, kayaknya malu punya gue sekarang," kata Rae ketakutan. Ocean menggenggam tangan Rae. Kembali mencoba meyakinkan gadis ini bahwa dunia tak sekejam yang ia kira.


"Vabi nunggu lo. Bener-bener nunggu lo setiap hari di sekolah. Temen sekelas lo, tiap hari nunggu lo buat balik lagi ke sekolah. Lo ga tau itu, kan? Lo tadi terlalu takut dan ngira Tuhan sejahat itu sama lo, Re." Keduanya tersenyum singkat. Lalu tanpa aba, Rae menepis pegangan tangan Ocean. Namun, secara tanpa sadar, gadis itu langsung memeluk teman sekolah yang menyelamatkan hidupnya tadi.


"Makasih banyak. Lo bener, gue terlalu takut dan ngira kalo Tuhan sejahat itu. Wkwkwk, big thankies for you, Ocean. Bahagia terus, ya?" balas Rae bersungguh-sungguh. Berterimakasih sebanyak mungkin karna telah menyadarkan dirinya.


Tanpa Ocean, mungkin kini Rae hanya mayat tak berguna yang lari dari masalah hidupnya. Tanpa Ocean, mungkin sekarang Rae sudah menyesali perbuatannya di alam lain. Dan, tanpa Ocean ... Rae tidak akan pernah tahu, bahwa ternyata ia memiliki teman yang begitu baik padanya.


big thankies for you, bahagia selalu.


Sebuah cerita pendek oleh Puri




 
 
 

Recent Posts

See All

Comments


  • Facebook
  • Twitter
  • LinkedIn

©2021 by thetruenesstroops. Proudly created with Wix.com

bottom of page