top of page
Search

HOME

  • Writer: The Trueness Troops
    The Trueness Troops
  • Apr 15, 2021
  • 4 min read

“apakah itu sakit?” kutatap gadis yang usianya jauh lebih tua dariku, ia yang duduk dengan santainya diatas ranjang rumah sakit. Ia menoleh dari layar ponsel ditangannya, lantas menatapku dengan senyum terpeta diwajah manisnya. Jawabannya bahkan tidak terduga olehku, “tidak.”


Bohong, aku memandangnya dalam diam, entah sudah yang keberapa kalinya ia bersikap seperti ini. Keluar-masuk rumah sakit. Seolah tidak bosan, bagai rutinitas harian, siapapun yang memandangnya saat ini akan berpikir bahwa ia hanya menderita sakit biasa, nyatanya jelas tidak. Dari cerita ibuku, dapat kuketahui, dia kakak sepupuku ini, tidak menderita sakit ringan. Kanker bersarang ditubuhnya jauh lebih lama dari yang kuduga. Usia dua tahun, bukankah itu usia yang terlalu muda? “kakak, apa kau sungguh-sungguh?”


“ini tidak sakit, coba lihat! Aku sehat aja tuh.” Aku meringis kala melihat selang infus bersarang ditangan kanannya, mengirim sesuatu berwarna bening yang aku sendiri tidak tahu namanya, hidup bertahun-tahun seperti itu. Sungguh, ia bahkan harus merelakan setengah masa sekolahnya seperti ini. Sungguh, bagi dirinya, tidak ada yang namanya , masa-masa indah hitam putih. Semua itu pergi, meluap ke angkasa luas, hanya sebatas angan-angan yang menjadi kenangan.

***

Namanya, Rahmatul Insyirah, keponakan ibuku yang beliau anggap sebagai anak sendiri. Bahkan terkadang aku merasa iri, ibuku benar-benar menganggapnya seperti anak yang lahir dari rahimnya. Padahal ikatan sederhana itu terjalin karena sedari dia menginjakkan kaki dirumah sakit ibukota terbaik untuk mendapat perawat, ibuku yang masih memasang status sendiri selalu ada disisinya, menggenggam tangannya, memberinya kekuatan.


“...aku tidak pernah bisa melupakan bagaimana sedihnya ia ketika melihat satu demi satu helaian rambutnya gugur. Perlahan ia kehilangan rambutnya. Bahkan aku tidak bisa melupakan bagaimana ia berteriak kesakitan ketika sel-sel tumor itu merenggut sedikit demi sedikit nafas kehidupannya.” Mendengarnya berkata demikian, aku bahkan tifak bisa membayangkan bagaimana perasaan bibiku, ibu dari kak insyirah yang melihat putrinya menderita seperti itu.


“...ketika dokter mengatakan bahwa insyirah menderita kanker, kakak merosot jatuh, nyaris tidak percaya,” ibu mengusap airmatanya yang jatuh. Wanita yang telah melahirkanku nyaris hendak menangis. “melihatnya begitu hancur, hatiku berdebar tak karuan, aku memeluknya, meminta untuk sabar. Sementara insyirah tidur dengan lelapnya tanpa mengetahui bahwa ia menderita penyakit mengerikan seperti itu...”


Kakak lebih kuat dari yang kuduga, ia bisa bertahan sampai sejauh ini adakah sebuah keajaiban. aku tidak pernah bisa melihat remaja setegar dia, ketika orang lain mengeluh hanya karena sesuatu hal yang kecil. Ia tidak begitu, penyakit itu membuatnya hidup sebagai remaja tegar yang berjuang untuk bertahan hidup. Puji allah yang maha kuasa, ia adalah orang yang baik. Aku menyayanginya, tolong buat ia tetap bahagia dan tegar dalam menghadapi cobaan yang engkau berikan.


“kakak tidak capek?” aku memandangnya yang diam terbaring dengan wajah setengah pucat, kami mendengar bahwa keadaannya memburuk lagi kali ini, seluruh keluarga kami berkumpul dalam ruangan yang sama. Berganti menjaganya siang dan malam. Ibuku nyaris tidak bisa tidur melihatnya demikian, begitupun dengan aku, yang semasa kecilku sering menghabiskan waktu bersamanya. Mendengarku ia menghela nafas. “ini bukan apa-apa, jadi berhenti memasang wajah menyedihkan itu! Kau membuatku merasa bersalah!” ia terkekeh, “ku dengar kau akan masuk pesantren setelah lulus ini, cieee... belajar dengan benar!”


“berhenti mengejekku! Aku masuk pesantren juga bukan karena keinginanku!” protesku, “kalau aku masuk pesanytren aku tidak akan pernah bisa bertemu kakak!”


“heh, siapa bilang? Masih ada waktu kok.” Ia tersenyum, mencubit hidungku. Perasaanku tidak enak, firasat buruk datang menyapa. Kau tidak memiliki maksud lain kan? Kak?. “kan nanti kau juga pulang saat liburan, nah, saat itu asku pasti sudah sehat dan ada dirumah.”


“kakak benar-benar ada dirumahkan saat itu?” kak insyirah memandangku hangat dan menganggukkan kepalanya, “tentu, dhea...”


Hujan, kata orang, hujan selalu membawa kenangan bagi setiap orang. Entahlah, aku menatap rintik hujan yang membasahi kota tempat aku tinggal. Dari balkon kelas, aku dapat melihat betapa basah nya dedaunan pohon ketapang. Udara dingin menusuk sampai ke relung hati, aku menggigil meski telah mengenakan jaket. Seseorang mendekat kesampingku dan ikut memandang kearah hujan. “sudah lama, bagaimana kabar kak insyirah?” temanku, meski sekarang kami tidak terlalu dekat, dia adalah orang yang menjadi temaan dimasa kecilku. Jelas saja, dia juga mengenal sosok kak insyirah. “baik, seperti biasa.”


“sungguh? Alhamdulillah. Aku dengar dari keluargamu keadaannya memburuk beberapa hari yang lalu.” Ah, tolong jangan sekarang.


“stadium akhir, aku yakin ia bisa bertahan dengan baik kali ini.” Aku tersenyum getir, menahan tangis, sekali lagi aku menghela nafas, memandang kearah hujan. Rumah, aku tahu, rumah adalah tempat yang nyaman untuknya, dan aku tahu, hanya dengan berada dirumah saja ia akan merasa baik-baik saja. Yah, rumah adalah segalanya, rumah adalah keluarga, dan keluarga adalah rumah. Tempat kita untuk pulang.


Hari senin, aku pulang dari sekolah, berjalan menuju rumah. Kala itu aku melihat ibuku terburu-buru ingin pergi dari rumah menuju rumahbsakit, perasaanku langsung tidak enak. Aku memanggilnya dan bertanya ada apa sebenarnya, “kakakmu!” deg. Apa aku salah dengar? “kakak?!”


Oh tidak, tolong katakan mimpi burukku menjadi kenyataan, tidak sekarang! Jangan sekarang! “ibu...bohongkan?” ibuku berbalik, butiran bening itu sudah mengalir dari kedua sudut matanya. Beliau menggeleng dan menangis didepanku, memegang kedua bahuku, aku memandanngnya tidak percaya. “kakakmu... hiks... telah dipanggil ke rahmatullah.”

“ah....” suaraku tercekat, aku nyaris tidak bisa bernafas, mataku mulai memanas, berharap apa yang kudengar adalah sebuah kebohongan. Dihari itu, tanpa aku ketahui keadaan kakak semakin parah, ia dilarikan ke rumah sakit di ibukota. Dan, ketika detik terakhir tiba, tanpa kedua orangtuanya sadari, kakak meminta untuk dipeluk, ia meminta maaf kepada kedua orang tuanya, dengan suara menahan rasa sakit, ia menahan tangis kala kedua ayah dan ibunya memeluknya, kemudian ia tertidur diatas ranjang rumah sakit. Tidak ada yang tahu, ternyata itu adalah salam perpisahan terakhir. Untuk kami yang kini menangis menatap kepergiannya.


Hari itu, aku menangis sejadi-jadinya, memanggil namanya beberapa kali. Tapi sayang, mereka yang telah pergi tidak akan pernah kembali, tapi setidaknya aku bisa tenang, kini ia tidak kesakitan lagi. Setidaknya aku tahu, bahwa allah lebih menyayanginya yang berhasil melewati jalan kehidupannya.


Meski begitu, tak dapat kupungkiri, aku merindukannya, bahkan hingga detik ini.


- Katanya, ketika kita lahir, orang-orang menangisi kehadiran kita dengan tangis bahagia

Dan ketika kita meninggal, mereka akan menangis karena berpisah dengan kita -


Sebuah cerpen oleh Dhea




 
 
 

Recent Posts

See All

Comments


  • Facebook
  • Twitter
  • LinkedIn

©2021 by thetruenesstroops. Proudly created with Wix.com

bottom of page